Oleh:
Prof. Dr. Fitri Damayanti, M.Si.
Dr. Acep Musliman, S.T., M.Si.
Dr. Tri Anita, S.E., M.Pd.
Nazalla Zazkya
Hasiyatul Aini
Ketika Tanaman dari Laboratorium Harus Beradaptasi
Kultur jaringan menjadi salah satu teknologi yang memungkinkan perbanyakan tanaman dilakukan dalam jumlah besar dengan karakter tanaman yang relatif seragam. Bagi kelompok tani, teknologi ini membuka peluang untuk menghasilkan bibit sekaligus mengembangkan usaha berbasis tanaman.
Namun, ada satu tahapan penting yang tidak dapat dilewati setelah tanaman keluar dari laboratorium, yaitu aklimatisasi. Planlet yang selama berada di dalam botol kultur tumbuh pada lingkungan yang terkendali harus beradaptasi dengan kondisi lingkungan luar yang jauh lebih dinamis.
Perubahan suhu, kelembapan, intensitas cahaya, dan ketersediaan air dapat memengaruhi kemampuan tanaman untuk bertahan hidup. Karena itu, keberhasilan aklimatisasi menjadi salah satu faktor penting yang menentukan keberlanjutan produksi tanaman hasil kultur jaringan.
Persoalan tersebut juga dihadapi Kelompok Tani Giat Bakti Lestari di Desa Cibadung, Gunung Sindur, Kabupaten Bogor sebagai mitra kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM). Kelompok tani ini diketuai Bapak Asep Yanto, sebelumnya telah memiliki laboratorium sederhana untuk kegiatan kultur jaringan yang diperoleh melalui hibah DRPM Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Anggaran 2024. Akan tetapi, fasilitas pendukung untuk tahap aklimatisasi masih perlu dikembangkan.
Kondisi tersebut mendorong tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Indraprasta PGRI untuk menghadirkan fasilitas aklimatisasi yang lebih sesuai dengan kebutuhan mitra.
Mengubah Rumah Paranet Menjadi Rumah Kawat Berbasis IoT
Melalui Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM), Hibah DRPM Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Anggaran 2026, tim PkM Universitas Indraprasta PGRI menerapkan Rumah Kawat Modern Berbasis Internet of Things (IoT) di Kelompok Tani Giat Bakti Lestari.
Sebelum program dilaksanakan, mitra telah memiliki rumah paranet sederhana dengan konstruksi bambu. Fasilitas tersebut membantu proses pemeliharaan tanaman, tetapi pengelolaan lingkungan di dalamnya masih sangat bergantung pada kondisi cuaca dan pengamatan secara langsung.
Melalui program PkM, fasilitas tersebut dikembangkan menjadi rumah kawat yang dilengkapi dengan sejumlah sarana pendukung, antara lain paranet, plastik UV, meja tanam, tangki air, pompa, sistem penyiraman, serta sensor lingkungan. Sensor digunakan untuk memantau sejumlah parameter penting, seperti suhu, kelembapan udara, dan kelembapan media tanam. Informasi kondisi lingkungan kemudian dapat digunakan dalam sistem monitoring untuk membantu mitra menentukan tindakan pemeliharaan.
Dengan pendekatan tersebut, teknologi IoT tidak ditempatkan hanya sebagai perangkat tambahan. IoT menjadi instrumen yang membantu petani mengenali kondisi lingkungan tanaman dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang lebih terukur.

Gambar 1. Perubahan fasilitas aklimatisasi mitra: rumah paranet dengan konstruksi bambu yang digunakan sebelum program (kiri) dan Rumah Kawat Berbasis IoT yang dibangun melalui kegiatan PkM (kanan).
Teknologi Diperkenalkan Bersama dengan Keterampilan
Pembangunan Rumah Kawat tidak menjadi akhir dari kegiatan. Agar fasilitas yang telah diberikan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan, tim PkM juga melibatkan mitra dalam berbagai kegiatan sosialisasi, pelatihan, praktik, dan pendampingan.
Mitra mendapatkan pembekalan mengenai tahapan aklimatisasi planlet, penggunaan sistem IoT, pemantauan kondisi lingkungan, pemeliharaan fasilitas, serta pencatatan perkembangan tanaman.
Pendampingan juga mencakup aspek pengelolaan kelompok. Mitra diarahkan untuk mulai melakukan perencanaan kegiatan, pembagian tugas, pencatatan produksi, monitoring, dan evaluasi secara lebih sistematis.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena keberhasilan penerapan teknologi tidak hanya ditentukan oleh keberadaan perangkat, tetapi juga oleh kemampuan pengguna dalam mengoperasikan, merawat, dan memanfaatkannya sesuai kebutuhan.
Lebih Banyak Tanaman Berhasil Melewati Tahap Aklimatisasi
Penerapan Rumah Kawat Berbasis IoT mulai menunjukkan perubahan pada proses produksi mitra. Hasil pengukuran terhadap 22 anggota Kelompok Tani Giat Bakti Lestari menunjukkan bahwa capaian produksi meningkat dari 63,57% menjadi 88,87%.
Selain capaian produksi, perubahan juga terlihat dari jumlah tanaman yang berhasil melewati tahap aklimatisasi. Sebelum penerapan rumah kawat, tercatat 62 tanaman berhasil melalui proses tersebut. Setelah fasilitas Rumah Kawat Berbasis IoT diterapkan, jumlah tanaman yang berhasil meningkat menjadi 112 tanaman, terjadi peningkatan sebesar 80,65%.
Peningkatan tersebut memberikan gambaran bahwa ketersediaan fasilitas aklimatisasi yang lebih memadai, ditambah dengan pemantauan kondisi lingkungan dan pendampingan pengelolaan, dapat membantu meningkatkan keberhasilan tanaman hasil kultur jaringan.
Pengelolaan Kelompok Mulai Berbasis Data
Dampak kegiatan tidak hanya terlihat pada jumlah tanaman. Aspek lain yang menjadi perhatian adalah kemampuan mitra dalam mengelola kegiatan produksi. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kemampuan manajemen mitra meningkat dari 69,66% menjadi 90,32%, dengan nilai N-Gain sebesar 0,59.
Peningkatan tersebut terlihat dari semakin terbiasanya mitra dalam menyusun rencana kegiatan, membagi tanggung jawab, mengelola sarana, melakukan monitoring, mencatat perkembangan tanaman dan produksi, serta melakukan evaluasi.
Keberadaan sistem IoT juga memperkenalkan cara kerja yang lebih berbasis informasi. Kondisi suhu, kelembapan udara, dan kelembapan media tidak hanya diamati berdasarkan perkiraan, tetapi dapat menjadi data pendukung dalam menentukan tindakan pemeliharaan. Teknologi yang diterapkam secara perlahan mendorong perubahan pola pengelolaan dari yang sebelumnya lebih banyak bertumpu pada pengalaman dan pengamatan manual menuju pengelolaan yang lebih terencana, terukur, dan berbasis data.
Menghubungkan Laboratorium dengan Produksi Petani
Rumah Kawat Berbasis IoT juga memperkuat hubungan antara kegiatan kultur jaringan dan budidaya tanaman. Planlet yang dihasilkan melalui laboratorium kultur jaringan kini memiliki fasilitas lanjutan untuk melewati masa adaptasi sebelum dikembangkan lebih lanjut. Setelah mampu beradaptasi, tanaman dapat diarahkan untuk kegiatan budidaya maupun pengembangan produksi bibit.
Rangkaian tersebut membentuk suatu alur produksi yang lebih terintegrasi, yaitu:
Kultur jaringan → Planlet → Aklimatisasi → Rumah Kawat Berbasis IoT → Tanaman siap dikembangkan atau dibudidayakan.
Integrasi ini memberikan peluang bagi kelompok tani untuk tidak hanya menghasilkan tanaman melalui kultur jaringan, tetapi juga mengembangkan tahapan pascaproduksi hingga tanaman memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Gambar 2. Rangkaian proses aklimatisasi tanaman: planlet tanaman hias hasil kultur jaringan yang siap memasuki tahap aklimatisasi (kiri) dan tanaman hias yang berhasil tumbuh di Rumah Kawat Berbasis IoT (kanan).
Bukan Sekadar Bangunan, tetapi Investasi Pengetahuan
Bagi mitra, Rumah Kawat Berbasis IoT bukan hanya tambahan fasilitas fisik. Kegiatan ini juga memberikan pengalaman baru dalam mengelola teknologi dan produksi tanaman.
Tim PkM membekali mitra dengan SOP, Buku Panduan Penggunaan Rumah Kawat Berbasis IoT, pengetahuan, dan keterampilan operasional. Bekal tersebut diharapkan dapat membantu kelompok tani mengoperasikan fasilitas secara mandiri setelah program berakhir.
Keberlanjutan menjadi bagian penting dalam program ini. Mitra didorong untuk terus melakukan pencatatan produksi, memantau kondisi lingkungan, menjaga sistem penyiraman dan sensor, serta menerapkan SOP dalam kegiatan sehari-hari.
Rumah Kawat yang telah dibangun juga memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai fasilitas pembelajaran bagi anggota kelompok tani dalam mengelola tanaman hasil kultur jaringan.

Gambar 3. Rumah Kawat Berbasis IoT yang menjadi fasilitas aklimatisasi dan pengembangan tanaman hasil kultur jaringan Kelompok Tani Giat Bakti Lestari.
Dari Teknologi Menuju Kemandirian
Penerapan Rumah Kawat Modern Berbasis IoT di Kelompok Tani Giat Bakti Lestari menunjukkan bahwa inovasi teknologi dapat menjadi bagian dari solusi terhadap persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Peningkatan jumlah tanaman yang berhasil melalui proses aklimatisasi dari 62 menjadi 112 tanaman, peningkatan capaian produksi dari 63,57% menjadi 88,87%, serta peningkatan kemampuan manajemen dari 69,66% menjadi 90,32% menjadi indikator perubahan yang terjadi selama pelaksanaan program.
Namun, capaian tersebut bukan tujuan akhir. Hal yang lebih penting adalah terbentuknya kemampuan mitra untuk mengoperasikan teknologi, mengelola fasilitas, membaca kondisi tanaman, mencatat proses produksi, dan menggunakan informasi sebagai dasar pengambilan keputusan.
Melalui kegiatan PkM ini, Rumah Kawat Berbasis IoT diharapkan menjadi titik awal bagi pengembangan sistem produksi tanaman yang lebih terintegrasi, terukur, berbasis data, dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, teknologi bukan hanya hadir dalam bentuk sensor, pompa, atau sistem monitoring. Teknologi menjadi bermakna ketika mampu meningkatkan pengetahuan, keterampilan, produktivitas, dan kemandirian masyarakat yang menggunakannya.